Translate

Rabu, 11 Desember 2013

KISAH KU DAN BURUNG CICI PADI

Di teriknya mentari hari Jum'at, 22 November 2013 sekitar pukul 15.00, kami masih di Madrasah Tsanawiyah Darul ‘Ulum Muhammadiyah Galur. Begitu terasa menyengat panas teriknya matahari di kala itu. Meskipun mentari hampir condong ke arah barat, tapi keteduhan mengiming-imingi kami sehingga terhalau menuju ke sebuah peraduan. Tepat berada di pinggiran desa, yang teriring permadani berwarna hijau.
Saat itu, aku dan kawan-kawan masih berada di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR. Namun, ekstra ini dilakukan setelah Kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathon (HW) yang artinya Pecinta Tanah Air, tapi kalau di Sekolah Negeri biasanya disebut Pramuka. Saat itu, aku hanya bersama dengan Ani, Elsa, Nana, Anisa, Arvina, dan Erlin. Padahal anggota resminya ada 19 orang. KIR merupakan Kegiatan ekstrakurikuler yang masih baru dan dibimbing oleh Bu Sita.
Setelah berkali-kali melakukan pembimbingan di kelas, akhirnya tibalah hari yang begitu spesial. Kali ini KIR dilakukan di luar ruangan (outdoor), ya sebelumnya memang Bu Sita telah memberikan kode bahwa beliau sedang bosan membimbing di dalam ruangan. Sehingga pada akhirnya, kami dengan semangat menyerukan untuk belajar di luar. Setelah kegiatan ekstra HW tersebut, selanjutnya kami berjalan menepi di sebuah desa Sorobayan. Satu-persatu duduk dengan santai melanjutkan tugas membuat cerpen yang menjadi PR minggu lalu. Sepuluh menit kemudian, ada sekitar 12 teman-temanku duduk melingkar memenuhi jalan tak beraspal. Seorang teman bernama Hilmen, membacakan cerpennya tentang IBU dan dilanjutkan oleh Arvina.
Karena waktu yang terus bergulir sesuai jalurnya, maka satu persatu teman ku pulang dan tersisa hanya kami berenam bersama dengan Bu Sita. Selanjutnya acara bebas yang diisi dengan melakukan pengamatan burung di sekitar sekolah. Tepat di depan kami, hamparan sawah yang masih sangat luas yang terisi dengan berbagai tumbuhan padi dan berhiaskan tumbuhan liar serta hewan-hewan yang begitu menakjubkan.
Angin yang begitu sepoi-sepoi ditambah dengan cahaya matahari yang menyinari suasana siang itu hingga cuaca itu menjadi panas. Jadwal kegiatan KIR kali itu adalah pengamatan yang tak lain dan tak bukan adalah pengamatan burung. Saat itu kami pun mencari tempat untuk pengamatan, dan setelah berhasil mencari tempat kami pun mulai menjalankan tugas kami.
 “Sama..??” kata Bu Sita. Ya begitulah awalnya, ku pikir semua burung itu sama semua. Umm.. namun tebakan ku itu salah, saat ku lihat memakai teropong “binokuler” ternyata jenis burung itu berbeda-beda. Akhirnya aku pun memilih untuk mengamati seekor burung yang bernama "CICI PADI".
Burung cici padi mempunyai nama latin yaitu "Cisticola juncidis". Burung itu mempunyai sayap coklat, berukuran kecil, dengan panjang tubuh dari ujung paruh sampai ekor adalah kira-kira 10 cm, sisi bawah tubuh agak pucat, lebih putih daripada Cici merah. Tungging kuning tua kemerahan dengan ujung ekor berwarna putih menyolok. Ekor kerap digerak-gerakkan menutup dan membuka serupa kipas, Sisi atas tubuh kecoklatan bergaris-garis/bercoret hitam. Suaranya “dik-dik..dik-dik” atau “zit-zit ..zit-zit” berulang-ulang. Alis putih, sisi leher dan tengkuk berwarna pucat. Iris mata coklat, paruh coklat, kaki putih sampai kemerahan. Biasanya menghuni padang rumput dan persawahan, terutama dekat air. Cici padi lebih banyak menjelajah di sela-sela kerimbunan batang-batang rumput yang tinggi. Kawan, rasanya sangat menarik sekali..!!!
Tak terasa, mentari semakin mendekati tempat persembunyiannya. Begitu pula dengan kami yang juga harus kembali pulang. Dan akhirnya, sampai jumpa lagi.... Mungkin secuil tulisan tentang perjalanan ku mengenal burung cici padi dapat bermanfaat untuk teman-teman semua. Dannn.. pesen ku : SOBAT, MARI KITA LEBIH PEDULI DENGAN ALAM SEKITAR... KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI..!!

Penulis : Haida Setyani Kelas VIII

CERPEN : Penyesalan Anak Kepada Ibu

upandangi sesosok wanita tua, yang sedang duduk merenung. Ia sedang merenungkan hidupnya saat ini bersama anaknya. Sedangkan anaknya yang bernama Astrid tidak tau keadaan ibunya setelah ditinggal orang yang telah menghidupi yaitu Ayahnya Astrid yang sudah mennggal beberapa bulan lalu. Dan sejak itulah Astrid menjadi anak yang bandel karena biasanya Ayahnya sering memanjakannya dan sekarang sudah tidak.
            Dan sekarang tinggallah ibunya seorang yang menemaninya tetapi terkadang Astrid tidak menyadarinya kalau ibunya suka memperhatikannya, sehingga dengan kelakuan terbiasa dimanja itu Astrid sering menyuruh-nyuruh, membentak-bentak ibunya, menolah suruhan ibunya dan lain-lain.
            Pagi itu Astrid sengaja bangun siang karena hari minggu. Astrid pun tidur sampai siang. Lalu ibunya membangunkannya.
            “Nak bangun dulu nak !!!. hari sudah siang.” (ucap ibu)
            “Aah entar aja lagian juga hari Minggu.” Astrid pun menolak dan ibunya masih berusaha membujuk.
            “Ayolah nak bangun dulu.”
Dan akhirnya Astrid pun mau bangun juga. Lalu Ibunya kembali lagi ke dapur. Dari dapur terdengar suara Ibunyan memanggil-manggil Astrid.
            “Nak sini tolong bantu Ibu ?”(pinta si Ibu)
            “Bantu apa lagi sih Bu, capeeeekkk.”
            “Itu cuciin piring, kerjaan Ibu masih banyak nak, kamu itu sesekali bantu Ibu nak.”(pinta Ibunya)
            “Usss..., gak mauuuuu cuapeeeeekkkkkk.”
            Astrid berpikir: “kalau bantu Ibu pasti capek, mending aku main aja lah.”
Lalu Astrid pun pergi tanpa pamit sama Ibunya.
            “Astrid..Astrid.” Suara Ibunya dari rumah yang sedang mencari-cari dan memanggil-manggil anaknya sampai berulang kali. Seiring dengan mencari anknya Ibunya pun sambil memesak, sewaktu Ibu didapur Astrid diam-diammasuk rumah tanpa mengucapkan salam dan suara apapun. Dari tadi pagi Astrid belum sampai sekarang , perut Astrid mulai bunyi.
            “Krucuk...Krucuk...Krucuk.. aduh perutku bunyi nih... lapeerrrr!!!.” Ia langsung menuju ke ruang makan, lalu memebuka tudung saji. Ternyata didalamnya tidak ad apa-apa, kosong. Lalu dari ruang makan tersebut Astrid teriak-teriak memanggil Ibunya.
            “Ibu...Ibu..Ibu.. kenapa Ibu gak masak?”(tanya Astrid)
            “Iya ini Ibu lagi masak.”
            “Aduh gimana sih tau anaknya lagi lapar bangeet gak sih?.”(gumamnya)
            “Ibu cepet laper bangettt nih.” (teriaknya lagi)
beberapa menit kemudian ibunya pun belum membawa masakannya. Astrid pun jengkel pada ibunya lalu tudung saji itu dibantingi olehnya klenten-klenteng-klenteng.
            “Bu, cepettt . . . ??? teriaknya lagi
            Berganti hari dia berangkat sekolah, sebelum ia pamit pada ibunya ia meminta uang saku dulu.
            “Bu uang saku.” (pinta Astrid)
            “Aduh, nak ibu belum punya uang.” (jawab ibu)
            “Kapan sih ibu punya uang tu.” (sambil membentak-bentak ibunya). Astrid  pun langsung berangkat sekolah tanpa berpamitan pada ibunya. Disekolah ia hanya main-main saja. Saat pelajaran Agama Islam dia menghadapi guru yang menurutnya galak super duper galak yaitu Bu Ratna, Bu Ratna tinggal bertetangga sama Astrid. Saat pelajaran Agama Islam itu Astrid tidak memperhatikan pelajaran, lalu Bu Ratna menyuruhnya untuk diam dan memperhatikan dan Astrid di ancam sama Bu ratna apabila dia tidak memperhatikan maka akan di strap di lapangan yang panas dengan terik matahari.
            Waktu itu guru menerangkan soal yang bersangkutan dengan orang tua. Disitu ibulah yang menjadi topiknya karena disuruh guru, Astrid jadi nurut dan Astrid pun mendengarkan dengan sangat memperhatikan dan dia pun bisa merenungkannya. Yang ada dipikirannya itu ibu yang telah melahirkan, mengandung, menyusui, memberi makan dan kasih sayang seorang ibu, dan tak seperti  biasanya Astrid menangis gara-gara mengingat ibunya.
            Ting-ting-ting bel berbunyi tanda jam pelajaran selesai. Astrid bergegas pulang dan dia segera ingin menemui ibunya. Dia teriak-teriak memanggil ibunya.
            “Ibu-ibu-ibu.” (teriak Astrid)
            “Iya nak ibu didapur.” (jawab ibu)
Ibu berpikir keheranan, tak seperti biasanya anakku seperti ini, “ada apa ya?” (gumamnya).
            Lalu Astrid langsung lari menuju dapur untuk menemui ibunya, Didapur terlihat ibu sedang duduk di bangku, lalu Astrid langsung duduk disebelah ibunya dan langsung memeluk ibunya, dia menangis dipelukan hangat ibunya dan dia berkata” maafkan aku ibu yang selama ini telah durhaka padamu, kini aku telah sadar atas kesalahanku selama ini, engkaulah yang telah mangandung, melahirkan, menyusui dan engkau tumpahkan kasih sayangmu itu.'
            “ya ibu telah memaafkanmu, alhamdulillah engkau telah menyadari itu semua nak.”
            Setelah beberapa hari kemudian, ibu Astrid mengalami sakit, sehingga Astrid pun kebingungan, karena tidak bisa membawa ibunya ke rumah sakit karena tidak punya biaya untuk membayar administrasi pembayaran.
            Beberapa hari kemudian, Ibu Astrid tak kunjung sembuh, akan tetapi sakitnya menjadi parah. Pada waktu itu, Astrid mengambil minum untuk ibunya didapur. Ternyata ibunya yang berada dikamar batuk berdarah, Astrid tidak tahu, sewaktu Astrid kembali dari dapur, ibunya pun sudah tiada. Dan Astrid pun meneteskan air mata, dan gelas yang ada di tangannya pun jatuh pecah.
            Ternyata ibu yang selama ini telah dia sakiti hatinya, dan yang telah melimpahkan kasih sayang sepenuhnya pada dirinya, kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

            Astrid pun berkata dali lubuk hati yang paling dalam :
            Oh Tuhan mengapa engkau panggil orang yang paling aku sayang
            Maafkan aku ibu karena ku tak bisa membalas semua jasamu
            Maafkan bila masa kecilku selalu mengganggu lelap tidurmu
            Ya Tuhan tempatkan dia dalam surgamu dan disisi-Mu

            Kan ku kirim doa apa yang ku bisa agar dia terlelap dalam tidurnya.

Penulis : Nur Afriani Fatimah

Minggu, 08 Desember 2013

CERPEN : JanJiKu UntuK Bunda


N
amaku Afriliana Nur Azizah, aku duduk dibangku SMP kelas VII, umurku 12thn, aku lahir pada tanggal 21 April 2001, dan dari situlah aku diberinala Afril. Aku mempunyai 2 orang kakak, kakak pertama bernama Richo Aditya Saputra dan kakakku yang kedua bernama Rizhta Indha Chantika yang biasa aku panggil kak Chanti. Aku sangat dekat dengan keduanya , dirumah ini aku juga tinggal bersama bundaku, bunda melati namanya. Bunda sangat menyayangiku, bundaku bekerja menjual kue-kuean, bundaku bekerja sebagai tulang punggung keluarga, karena ayahku yang telah meninggal sejak aku berumur 2thn, karena kecelakaan mobil waktu lalu. Aku bersekolah di SMP Mutiara 1 Jakarta Pusat, di sekolah itu aku mempunyai 4 sahabat mereka bernama Nitya Cahya Kurnia yang biasanya dipanggi Nia, Yasmin Asy-Syafa yang biasanya dipanggil Yasmin, dan juga Ridho, dan Hendra. Mereka semua sangat baik mengerti dikala senang ataupun susah. Dari mereka ber4 aku paling dekat dengan hendra, selain hendra teman sebangkuku ia juga tetangga jarak 2 rumah denganku, ia jg paling baik dr semua teman-temanku.
------00------
        “kring..kring..kring..” seperti biasa aku berangkat kesekolah bersama teman-temanku , tak seperti biasanya yang diantar oleh bunda, karna kali ini bunda banyak pesanan kue. Tak pernah lelah bunda bekejra sebagai tulang punggung keluarga menggantikan ayah, sungguh aku sangat menyayangi bundaku, aku berjanji pada bunda suatu hari nanti aku akan membahagiakan bundaku seperti bundaku menyayangiku dan membahagiakanku sejak kecil. Kembali ke topik, aku berangkat bersama semua sahabat-sahabatku yang rumah mereka tak begitu jauh dari rumahku. Saat itu Hendra bertanya kepadaku.
        “Afril, apa kamu udah sarapan?” tanyanya kepadaku.
        “udah donk, kamu sendiri udah belom?” jawabku
        “belum, mamaku belom menyiapkan sarapan untukku pagi ini.” Ujarnya.
        “ooh... begitu” jawabku singkat.
        “gimana kalau kita udah sampai sekolah, kita langsung on the way ke kantin?” ujarku
        “siap bu bosss...!!” jawab teman-temanku yang agak sedikit mengejekku.
        Tak lama kita semua sampai ke sekolah, tak lupa dengan perkataanku yang aku katakan dijalan tadi, kita semua langsung bergegas kekantin, seperti biasa dikantin kami semua hanya bercanda dan bersendaugurau bersama. Tak lama kemudian lonceng sekolah tanda masuk pun berbunyi, saatnya kita masuk kelas.
        “teng..teng..teng..” lonceng berbunyi tiga kali, tanda masuk kelas
        “temen-temen! Lonceng dah bunyi tuh , kita masuk kelas yuk..” ajakku kepada mereka semua.
        “yuukk..!!!” sahut teman-temanku

        Pada pukul 09.30 , lonceng pun berbunyi lagi , itu udah tanda kalau kita harus istirahat pagi , yaaah... seperti biasa lahh.. kalo udah istirahat , ya balik lagi ke kantin. Yah.. ngobrol2 layaknya anak muda gitu deehh...
        “teng...Teng...tengg..” belnya udh bunyi tuuhh.. dengerku udah masuk lagi, setelah ini pelajaran kesukaan kami , yaitu pelajaran bahasa inggris yang digurui oleh Mr Hudson , yang biasa kita panggil Mr H. Setelah pelajaran Mr H, kami semua pulang kerumah masing-masing. Diperjalanan menuju rumah, aku merasa kayak ada yang ngikutin aku gitu , tapi siapa yaaa?????. Tak lama ada seseorang yang memanggilku.
        “Afriiiilllll.....!!????” ujar seseorang itu memanggilku.
        “iya ? ada yang bisa aku bantu kak ?” dengan heran aku menanyainya karna aku tak kenal dengan orang tersebut.
        “namamu Afril kann???” tanya kakak itu .
        “kakak ini siapa? Kok kenal aku ?” tanyaku .
        “aku Rony, anak kelas IXa. Siapa coba yang gak kenal sama anak yang yang termasuk berprestasi disekolah ini??” jawab kakak itu
        “oww...” jawabku sedikit malu dan penasaran. Karna selama aku bersekolah disini nggak pernah tau sama yang namanya kak Rony?
        “ya sudah.. sampai ketemu besok ya. Byeee..!” jawab kakak itu.

        Selama pelajaran pulang aku berjalan dengan langkah ragu, ragu karena kakak kelasku tadi yang seblumnya aku belom pernah denger dan kenal dengan nama itu. Hmm... lupakan sajalah, anggap saja sebuah angin berlalu, itung-itung buat tambah-tambah temen baru gituh..
        Tak lama.. aku sampai dirumah , dengan sapaan yang sangat ceria , seperti biasanya. Menyapa bunda , dan bunda menyambutku dengan senyuman dan belaian halus darinya.
        “Assalamualaikumm...??!!!” sapaku kepada bunda dengan riang.
        “Wa’alaikumsallam..” jawab bundaku dengan halus.
        “Makan siang , sholat , lalu tidur siang ya sayaangg...” pesan ibuku saat aku mencium tangannya.
        “iyaa bundaaa....” saurku .
        “tapi bunda, aku ingin membantu bunda..” ujarku selanjutnya.
        “tidak usah sayang… lagi pula, membuat kuienya juga udah selesai” ujar bundaku.
        “baiklah bunda…” jawabku sedikit menyesal.
        Setelah itu aku langsung bergegas ke kamar, setelah itu aku langsung berganti pakaian dan mengambil air wudhu, setelah mengambil air wudhu aku langsung makan siang, makan siangku kali ini, aku ditemani oleh bundaku, sambil berbincang-bincang mengenai kegiatan sehari-hariku disekolah. Setelah makan siang, bundaku menyuruhku untuk beristirahat siang. Sungguh senang diriku memiliki bunda sepertinya.


Pagi ini , aku dibangunkan oleh bundaku pada pukul 05.30 untuk menjalankan kewajiban umat muslim dipagi hari yaitu, sholat subuh, setelah sholat subuh, aku membantu bundaku sebentar untuk membuat sarapan, pagi hari ini, ternyata menu sarapan pagi ini adalah nasi goring, makanan  kesukaanku. Setelah aku membantu bunda membuat sarapan, aku langsung bergegas untuk bersisap-siap ke sekolah, mandi dan menyiapkan alat-alat lainnya. Setelah itu aku langsung bersarapan bersama kedua kakakku dan bundaku.
Lagi-lagi pagi ini aku tak diantar sekolah oleh bundaku, melainkan aku diantar oleh kakakku yang pertama, kak Richo. Selama 1thn aku bersekolah disekolah ini aku diantar kakakku baru satu kali ini  aku diantar oleh kakakku. Sesampainya disekolah seperti biasa, aku langsung gabung bersama teman-temanku dikantin. Hmmm… tapi aku merasa, mengapa hari ini ada yang aneh ? batinku.
“hey Yasmine! Kemana hendra???” tanyaku kepada  Yasmine.
“entahlah..” jawabnya kepadaku dengan nada yang sedikit acuh.
“kamu tau gak Ni??” tanyaku ke nia.
“apa lagi akkuu?????’’ jawab nia .
Tiba-tiba ada seseorang yang berlari dari arah pintu masuk kantin. Ternyata bena dugaanku pasti ridho yang datang.
        “sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan dho??” tanyaku kepadanya denga sedikit polos.
        “i..ituu’’ jawabnya sedikit terennggah-engah.
        “adaapa??” tanyaku kepoo.
        “Hendra ke..kecelakaan..’’  katanya. “dia kecelakaan tadi pagi sbelum ia berangkat sekolah” lanjutnya.
        “HAAHH!!!!!!” jawab kami serempak.  
        “iya tadi pagi ia terserempet mobil, sepertinya ada luka sedikit parah dibagian kepalanya”ujarnya.
        “kamu tau dari mana dhoo???” ujar Nia.
        “tadi aku bertemu mama papanya dijalan”..
        “ow…  bagaimana kalau kita nanti menengoknya ??” ujarku kepda teman-teman.
        “SETUJU!!!!” jawab teman-temanku serentakk.
Tak lama bel sekolah pun berbunyi, saatnya aku harus masuk ke kelas, jam pertama adalah pelajaran yang bener-bener bikin boring . MATEMATIKA, oh my god  sungguh bosan pelajaran ini. Tapi ngomong-ngomong kenapa perasaanku hari ini aneh ya? Seperti ada yang akan terjadi kepadaku nanti. Tak lama kemudian pintu kelas berbunyi “tok..tok..tok..” pintupun dibukakan oleh guruku. Sungguh terkejut, kenapa yang datang kakakku ??? dalam hatiku bertanya-tanya . sedikit lama kakakku berbincang-bbincang dengan guruku, persaanku makinnggak karuan. Taklama kakakku menghampiriku dan mengajakku pergi. Seperti biasa didalam mobil aku disuruh mendengarkan musik, yah… biasalah kalo dah deger yang namanya music biasanya aku lagsung tertidur lelap. Setlahsampai ditujuan, sungguh aku terkejut, aku sampai deadpan rumasakit. Didalam hatiaku bertanya-tanya, da apadisin? Mengapa suasana menjadi  garuh seperti ini? Batinku. Setelah sampai didepan sebuah bangsal kakakku menatapku dengan penuh harap,  matanya yang cerah berkaca-kaca itu, seakan ingin mengatakan hal penting kepadaku, suasana seketika terdiam, sunyi, sepi, seperti tak ada orang satupun disitu. Tiba-tiba kakakku memeluku dengan erat, sangaaaatt erat,. Sungguh perasaanku makin tiak karuan,
        “Afrill…” panggil kakakku
        “iya.. adaapa kak?” sahutku dengan sedikit nada yang sudah pelan.
        “sekarang kamu tau kita ada dimana? Kamu tau siapa yang mau kita tegok didalam sana?” Tanya kakakku dengan sedikit nada yang menghiraukanku “kamu yang tabah ya..” ujar kakak tiba-tiba kepadaku.
        “kakak, memang ini ada apa? Siapa yang didalam bangsal itu kak? Tanyaku semakin histeris. Dengan nekat aku meninggalkan kakakku lalu aku masuk kebangsal itu. Sungguh terkejut aku melihatnya aku terdiam, aku membisu, badanku kaku, airmataku mengalir deras. Deraian air mata yang terus menetes dipipiku.
        Tak lama kemudian, kakakku lari menghampiriku dariluar, ia berlari lalu memeluk dan mengecupku layaknya seorang ayah yang tak ingin anaknya menangis, sungguh tak menyangka bundaku terbaring lemas diatas ranjang itu,  bundaku tak memiliki kaki lag untuk berjalan dengan sempurna, sungguh kasian bunda, air mataku tak mau berhenti mengalir, dan bundku juga belum saja sadar.
        Setelah lama kami menunggu bunda shiuman, akhirnnya kami pun memutuskan untuk pulang. Kakakku mengantarku pulang sampai rumah, perjalannan yang sunyi da suram, seperti mimpi rasanya. Setelah sampai rumah aku langsung bergegas untuk sholat ashar karna sudah hamper pukul 5 aku sampai dirumah. Setelah aku selesai sholat kakakku kembali kerumasakit untuk menemani bundaku yang terbaring lemas disana, tak lama  kak Chantipun pulang,  juga dengan wajah yang suram setelah mendengar kabar bunda yang tertabrakk mobil setelah pulang dai pasar tadi..
        Seemalaman penuh aku ttak bisa tidur, tak ingin makan, semuanya seperti mimpii.. sungguh tak kusangka semuanya akan terjadi seperti ini, rasa rinduku semakin membulat. Kesokn harinya kakakku datang menjemputku untuk berangkat kesekolah. Sesampainya didepan gerbang sekolah aku menitipkan sepucuk surat kepada kakakku, surat itu aku tulis semalam hanya untuk bunda tersayang.

SEPUCUK SURAT UNTUK BUNDA :’)

        To : bunda tersayang

Bunda..
Bagaimana kabar bunda disana? Semoga keadaan bunda semakinn membaik.
Bunda..
Aku rindu bunda..
Hari-hariku terasa sepi tanpa bunda, tiada perhatian dan kasih sayang rasanya.
Bunda..
Saat aku mulai berfikir , saat aku ingin membeli sesuatu, saat aku tak bisa, saat aku belum bisa belajar sendiri, saat aku tak bisa makan, saat aku sakit. Bunda selalu ada dan temani hari-hariku
Bunda..
Mungkin ini sudah saatnya aku untuk menepati janji-janjiku kepada bunda, bekerja, belajar, dan berusaha untuk bunda.
Bunda..
Aku harap bunda tak menghalangi keinginanku ini yah bunda . aku berjanji esok nanti aku aka datang kembali dan membawa janji-janjiku untuk bunda..
Bunda..
Aku sayang bunda.. cepat sembuh ya bunda..
                                                                                      SALAM  MANISS                                
                      Afriiill..


        Kini hari telah berganti minggu, minggu telah berganti bulan ,dan hari semakin hari aku makin rindu kepada bunda , semaki bingung aku akan pergi kemana, suatu sore aku memutuskan untuk pergi dari rumah, aku berjalan dan terus berjalan. Adzan maghrib pun datang aku berhenti deisebuah musolah untuk istirahat dan sholat sejenak. Hari semakin malam, semakin gelap, aku duduk diseramb sebuah masid itu. Tak lama seorang ustadh datang mehampiriku.
        “assalamualaikumm..”
        “wa’alaikumsalamm..” jawabku
        “kamu siapa siapa dek? Orang mana? Mengapa kamu ada disini? Sepertinya saya jarang melihat adek ada disekitar sini?” Tanya ustad itu dengann halus..
        “aku  afril. Aku dari desa sebelah. Aku akan mencari tempat tinggal disini.” Jawabku dengan agak sedikit malu.
        “mm… bagaimana kalau adek tinggal dirumah bapak saja..” ajak bapak itu.
        “sedikit berfikir , namun aku menerimanya karena waktu yang semakin malam”
        Deraian hujan malam itu menemani langkahku, dinginnn sekali rasannya dengan rasarindu yang selalu menghantuiku. Sesampainya kau dirumah itu, aku disambut dengan ramah oles seorang ibu-ibu canttik dan muslimah seperti sosok bundaku, rasanya makin aku rindu bunda, batinku. Setelah aku dipersilahkan duduk, aku dibawakan segelas susu oleh seorang wanita itu, dan setelah aku istiirahat dan minum aku langsung dipersilahkan kekamarku. Disana banyak anak2 seusiakku yang tinggal disana. Setelah selesai beres-beres  tak lama  ada seseorang yang mengetok pintu kamarku “tok..tok..tokk..”
        “Assalamualaikum?” ujarnya.
        “Waalaikumsalam..”
        “ada apa?” tanyaku padanya
        “gapapa kok, kamu anak baru ya dikost ini”
        “iya..”
        setelah lama kita berbincang-bincang, membicarakan hal-hal yang dibutuhkan dikost ini, ternyata sangat banyak kebutuhan yang aku butuhkan , sedangkan aku hanya memiliki slembar uang 50.000 di dompetku dan 100.000 di kartu ATMku. Sejenak aku berfikir bagaimana caranya aku memenuhi kebutuhanku. Dalam hati aku berkata “sungguh susah hidup tanpa bunda, tapi.. apadaya aku harus melakukan ini dengan sendiri,” aku berfikir dan terus saja berfikir, hingga saat itu aku menemukan pilihan yang tepat. Aku akan berjualan kue bersama temanku untuk memenuhi hari-hari dan kebutuhanku, meskipun dengan hasil yang tidak banyak juka dibagi dua.
        Hari esok aku memulai hari-hariku dengan bersekolah seperti biasanya, tapi dengan adanya perbedaan yang aku alami hari ini adalah tanpa sapaan dari keluargaku, dan sepulang sekolah aku harus berjualan kue untuk memenuhi kebutuhanku. Meskipun sangatlah rumit berjualan dengan umur sepertiku. Aku bekerja untuk membayar kost, dan sekolahku selama 3thn dan memenuhi janji-janjiku kepada bunda.

3thn kemudian.
        Saat itu aku sudah mulai menginjak kelas 3SMP , aku masih terus berdagang kue , uang yang ku dapat setiap saat aku kumpulkan , dan aku sisihkan untuk membelikan sesuatu untuk bunda nanti. Setelah 1bulan berlalu kini sudah saatnya untukku berhenti membuat dan berjualan kue, karena kini telah saatnya aku untuk mengerjakan soal penentu kelulusan (UN). Sepanjang hari aku terus belajar, berdoa, dan puasa. Semua ini kulakukan demi bundaku. Hingga suatu saat UN akan dilaksanakan, sungguh sangat sedih hatiku ulangan yang tak mendapat dukungan secara langsung dari orang tauku. Setelah 4hari aku melaksanakan Ujian Nasional, aku merasa lega walaupun tetap berdoa dan terus berdoa seperti yang selalu diajarkan bundaku dulu. Setelah 1bulan aku menunggu pengumuman kini tibalah saatnya untukku mendengarkan pengumuman tersebut. Dengan hati yang berdebar-debar, detak jantung yang berdegub semakin kencang, sungguh rasanya seperti melayang-layang.
        Pukul 9 pun telah tiba, kini saatnya guruku membagikan hasil yang kami jalani selama 3thn ini. Satu demi satu guruku telah menyampaikan hasil selama kita belajar disini, dan sekarang tiba saatnya pengumuman kelulusan dan rangking Ujian Nasional yang selama ini kita tempuh. Guruku membacakan hasil yang telah digenggamnya sejak tadi . “Urutan pertama, Ujian Nasional SMPN  Mutiara 1 adalah.. Afriliana Nur Azizah, dengan nem 38,35” sungguh terkejut hatiku medengar ucapan tersebut, seperti mimpi rasanya. Sungguh aku bertrimakansih kepadamu yaAllah aku telah kau berikan kesuksesan untuku , saat itu pelukan teman-temanku menghampiriku memberikan ucapan selamat kepadaku, dan ada seorang lelaki dewasa yang mendatangiku, tak salah itu adalah kak rony yang telah lama aku tak bertemu dengannya, ia dantang dengan senyum manisnya dan iya mengatakuan “selamat ya Afril, kamu bisa menempuh UN secara maksimal dan mendapat hsil yang memuaskan” ujarnya kepadaku dan hanya senyuman yang dapat menjawab semua itu. Namun.. ada yang kurang disini, tak ada kecupan manis dari seorang bunda.
        Dan saat itu aku pulang ke kost diantarkan oleh kak Rony. Dan ore itu aku berkemas-kema dan akan pergi ke toko kursi roda bersama kak Rony, dan saat itu aku akan menepati janjiku kepada bunda, setelah sampai disana, kucari-cari, ku lihat-lihat harga yang sesuai dengan uangku dan dengan kualitas yang terjamin, saat itu sangat bahagia hatiku, karna aku telah bisa memenuhi semua janjiku untuk bunda. Setelah aku mendapatkan kursi roda yang aku inginkan aku pulang dan aku mengucapkan selamat jalan dan terimakasih kepada kak Rony. Setelah aku sampai di kost aku mengemasi semua bajuku dan barang-barangku untuk kembali kerumah esok pagi yang telah lama aku meninggalkannya.
        Pagi itu, aku berpamitan kepana ibu dan bapak kost yang selama inu telah memberiku tempat tinggal, berpamitan dengan sahabat-sahabatku untuk kembali kerumah. Setelah aku menaiki taxi tak kusanga aku telah sampai didepan rumah. Stapamku myenyambutku dengan senyum yang lebar, sesampainya didepan pintu menetes lah air mataku dengan membawa kursi roda dan barang bawaanku. Ku ketuk rumah itu, dan tak lama kemudian sesosok wanita manis membukakan pintu untukku. Ternyata orang yang membukakan pintu untukku itu adalah kak Chanty, ku lepaskan semua barangku dan ku peluk dia, sungguh sangat rindu aku padanya. Setelah aku melepas rindu bersama kakakku, aku diantar menuju kamar bunda, bunda hanya berbaring dan tak bisa apa-apa, aku ketuk pint kamar itu lalu kubuka pintu itu, jatuhlah air mataku begitu deras. Ku peluk bundaku, ku sujud dikakinya dan dikecupnya kepalaku oleh dirinya, sungguh rindu aku padanya, sangggatt... rindu. Tak lama kak Richo datang menghampiriku dari belakang dan memeluku, semua keluargaku berpelukan, melepas kerinduan yang telah lama kami tinggalkan.
        Sejenak saat suasana sedikit tenang aku turun kebawah, dan bundaku bertanya.
        “mau kemana Afril?” tanya bundaku dengan nadanya yang  lembut.
        “mau kebawah sebentar bun..” menuju kebawah akan ku ambil kursi roda dan hasil UNku.
        (didepan pintu aku berkata)
        “Bundaaa...” panggilku.
        Semua keluargaku menengok ke arahku, dengan wajah yang sangat bingung. Aku datang membawa kursi roda dan hasil Unku untuk bunda.
        “bunda... ini ku berikan kursi roda untuk bunda, semoga kursi ini akan bermanfaat untuk bunda, dan. Kakak bunda.. ini hasil UNku yang telah aku tempuh selama 2bulan lalu, aku mendapatkan nim 38,35”
        “alhamdulillah..” ujar keluargaku secara bersamaan. Air mata bundaku menetes begitu deras dengan tatapan ia sangat bangga padaku.
        Setelah itu aku berkata.
        “bunda.. semua inu ku lakukan untuk bunda, untuk memenuhi janjiku pada bunda, bunda.. kini aku datang telah membawa semua janjiku yang kuucap beberapa tahun lalu untuk bunda”
        “terimakasih Afril.. bunda bangga sama Afril”
        Semua keluargaku berkumpul dan tertawa melepas rindu bersama, dan akhirnya aku pun senang dan bahagia aku bisa kembali kerumah ini bersama bunda dan kedua kakakku..

~JANJIKU UNTUK BUNDA~

~TAMAT~

Penulis : Arvina Puspitaningrum kelas VIII

KEONG SAWAH : bukan sekedar HAMA, tapi juga SEBUAH MENU LEZAT


Matahari kini sudah kembali ke Barat. Di gendang telingaku kini sudah tak terdengar lagi hiruk pikuk suara keceriaan temanku. Ya, yang ada sekarang hanyalah suara televisi yang menjadi temanku di rumah. Hari ini memang sudah jatahku pulang untuk menyervis otakku ini, yang sudah berjuang selama 2 minggu ini. Saat ini juga adalah musim menanam padi, sehingga orang tuaku sedang sibuk menyingkirkan hama padi di sawah. Dan jadilah, hari ini di rumah hanya berteman dengan televisi saja.


“Mbak Naaaa …?” huft ,suara lantang adikku mengagetkanku. Merengek-rengek ingin menyusul ibu. Yah mau bagaimana lagi, akhirnya ku turuti saja keinginannya. Kemudian kami berlari menerjang angin yang menghalang menuju sawah yang penuh dengan permadani hijau. Hingga akhirnya sampai garis finish yaitu "sawah". Lelah, begitu lelahnya aq berlari, tapi semuanya telah terbayar. Kebersamaanku dengan adik tercinta dan juga hijaunya hamparan sawah yang membentang memberikan pesona yang sangat luar biasa.

Sawah yang identik dengan tanaman padi (Oryza sativa) ternyata memiliki sebuah keunikan. Selain tanaman padi, ada makhluk hidup lainnya yang hidup disitu. Makhluk hidup yang kami maksud adalah keong sawahDan sepertinya kali ini, memang sengaja aku dan Fafa adikku, mencari keong sawah yang mengganggu tumbuhan padi (hama). Tentunya selain mencari keong sawah kami juga bermaksud untuk bermain lumpur. Fafa dengan semangat ’45 langsung menceburkan kaki mungilnya itu ke lumpur mengikuti bapak dan ibu yang memang sudah sedari tadi itu berjibaku dengan rumput-rumput liar.Tak mau kalah ,aku juga ikut turun ke lumpur.
Keong sawah (Pila ampullaceayang berwarna hijau lumut dan termasuk filum Mollusca itu kami bawa dengan kantong kresek, yang ternyata kantong kresek itu juga sudah menjadi limbah di sekitar sawah. Sungguh kenyataan yang pahit. Hmm, membayangkan jika ada sekitar 1 kantong kresek keong yang kami dapatkan bisa jadi ada sekitar 100 lebih keong sawah yang berhasil kami kumpulkan.
Dalam hati aku tertawa riang “mungkin sebelum ini kalian bisa mengganggu padi-padi  ku, tp nanti kalian akan menjadi santapan yang lezat”. Memang di samping ulah keong sawah itu mengganggu tanaman padi, keong sawah ternyata bisa menjadi santapan yang tidak kalah sedap. Entah itu santapan bagi bebek-bebek yang sudah menunggu kelaparan ataupun santapan untukku. Berbicara soal santapan hewan bercangkang ini paling nikmat jika di sate, tapi paling mudah cara mendapatkannya adalah dengan ‘membelinya’. Memang sudah banyak yang menjual makanan dari hewan yang telah dipercaya dapat mengobati penyakit liver ini. Pergi ke angkringan adalah cara untuk mendapatkannya. Hmm memang tak salah aku tadi menuruti keinginan adikku. Dan dengan itu aku nanti bisa menyantap keong-keong sawah ini .
Meskipun terlalu asik dengan keong sawah, namun karena cuaca sudah mulai menurunkan rintik-rintik air hujan. Maka kami pun segera Kabuuuuur meninggalkan sawah. Dan itu artinya kini saatnya pulang dan menyantap keong-keong nakal ini (Fathiyah Hasna/VIII).