Translate

Rabu, 11 Desember 2013

CERPEN : Penyesalan Anak Kepada Ibu

upandangi sesosok wanita tua, yang sedang duduk merenung. Ia sedang merenungkan hidupnya saat ini bersama anaknya. Sedangkan anaknya yang bernama Astrid tidak tau keadaan ibunya setelah ditinggal orang yang telah menghidupi yaitu Ayahnya Astrid yang sudah mennggal beberapa bulan lalu. Dan sejak itulah Astrid menjadi anak yang bandel karena biasanya Ayahnya sering memanjakannya dan sekarang sudah tidak.
            Dan sekarang tinggallah ibunya seorang yang menemaninya tetapi terkadang Astrid tidak menyadarinya kalau ibunya suka memperhatikannya, sehingga dengan kelakuan terbiasa dimanja itu Astrid sering menyuruh-nyuruh, membentak-bentak ibunya, menolah suruhan ibunya dan lain-lain.
            Pagi itu Astrid sengaja bangun siang karena hari minggu. Astrid pun tidur sampai siang. Lalu ibunya membangunkannya.
            “Nak bangun dulu nak !!!. hari sudah siang.” (ucap ibu)
            “Aah entar aja lagian juga hari Minggu.” Astrid pun menolak dan ibunya masih berusaha membujuk.
            “Ayolah nak bangun dulu.”
Dan akhirnya Astrid pun mau bangun juga. Lalu Ibunya kembali lagi ke dapur. Dari dapur terdengar suara Ibunyan memanggil-manggil Astrid.
            “Nak sini tolong bantu Ibu ?”(pinta si Ibu)
            “Bantu apa lagi sih Bu, capeeeekkk.”
            “Itu cuciin piring, kerjaan Ibu masih banyak nak, kamu itu sesekali bantu Ibu nak.”(pinta Ibunya)
            “Usss..., gak mauuuuu cuapeeeeekkkkkk.”
            Astrid berpikir: “kalau bantu Ibu pasti capek, mending aku main aja lah.”
Lalu Astrid pun pergi tanpa pamit sama Ibunya.
            “Astrid..Astrid.” Suara Ibunya dari rumah yang sedang mencari-cari dan memanggil-manggil anaknya sampai berulang kali. Seiring dengan mencari anknya Ibunya pun sambil memesak, sewaktu Ibu didapur Astrid diam-diammasuk rumah tanpa mengucapkan salam dan suara apapun. Dari tadi pagi Astrid belum sampai sekarang , perut Astrid mulai bunyi.
            “Krucuk...Krucuk...Krucuk.. aduh perutku bunyi nih... lapeerrrr!!!.” Ia langsung menuju ke ruang makan, lalu memebuka tudung saji. Ternyata didalamnya tidak ad apa-apa, kosong. Lalu dari ruang makan tersebut Astrid teriak-teriak memanggil Ibunya.
            “Ibu...Ibu..Ibu.. kenapa Ibu gak masak?”(tanya Astrid)
            “Iya ini Ibu lagi masak.”
            “Aduh gimana sih tau anaknya lagi lapar bangeet gak sih?.”(gumamnya)
            “Ibu cepet laper bangettt nih.” (teriaknya lagi)
beberapa menit kemudian ibunya pun belum membawa masakannya. Astrid pun jengkel pada ibunya lalu tudung saji itu dibantingi olehnya klenten-klenteng-klenteng.
            “Bu, cepettt . . . ??? teriaknya lagi
            Berganti hari dia berangkat sekolah, sebelum ia pamit pada ibunya ia meminta uang saku dulu.
            “Bu uang saku.” (pinta Astrid)
            “Aduh, nak ibu belum punya uang.” (jawab ibu)
            “Kapan sih ibu punya uang tu.” (sambil membentak-bentak ibunya). Astrid  pun langsung berangkat sekolah tanpa berpamitan pada ibunya. Disekolah ia hanya main-main saja. Saat pelajaran Agama Islam dia menghadapi guru yang menurutnya galak super duper galak yaitu Bu Ratna, Bu Ratna tinggal bertetangga sama Astrid. Saat pelajaran Agama Islam itu Astrid tidak memperhatikan pelajaran, lalu Bu Ratna menyuruhnya untuk diam dan memperhatikan dan Astrid di ancam sama Bu ratna apabila dia tidak memperhatikan maka akan di strap di lapangan yang panas dengan terik matahari.
            Waktu itu guru menerangkan soal yang bersangkutan dengan orang tua. Disitu ibulah yang menjadi topiknya karena disuruh guru, Astrid jadi nurut dan Astrid pun mendengarkan dengan sangat memperhatikan dan dia pun bisa merenungkannya. Yang ada dipikirannya itu ibu yang telah melahirkan, mengandung, menyusui, memberi makan dan kasih sayang seorang ibu, dan tak seperti  biasanya Astrid menangis gara-gara mengingat ibunya.
            Ting-ting-ting bel berbunyi tanda jam pelajaran selesai. Astrid bergegas pulang dan dia segera ingin menemui ibunya. Dia teriak-teriak memanggil ibunya.
            “Ibu-ibu-ibu.” (teriak Astrid)
            “Iya nak ibu didapur.” (jawab ibu)
Ibu berpikir keheranan, tak seperti biasanya anakku seperti ini, “ada apa ya?” (gumamnya).
            Lalu Astrid langsung lari menuju dapur untuk menemui ibunya, Didapur terlihat ibu sedang duduk di bangku, lalu Astrid langsung duduk disebelah ibunya dan langsung memeluk ibunya, dia menangis dipelukan hangat ibunya dan dia berkata” maafkan aku ibu yang selama ini telah durhaka padamu, kini aku telah sadar atas kesalahanku selama ini, engkaulah yang telah mangandung, melahirkan, menyusui dan engkau tumpahkan kasih sayangmu itu.'
            “ya ibu telah memaafkanmu, alhamdulillah engkau telah menyadari itu semua nak.”
            Setelah beberapa hari kemudian, ibu Astrid mengalami sakit, sehingga Astrid pun kebingungan, karena tidak bisa membawa ibunya ke rumah sakit karena tidak punya biaya untuk membayar administrasi pembayaran.
            Beberapa hari kemudian, Ibu Astrid tak kunjung sembuh, akan tetapi sakitnya menjadi parah. Pada waktu itu, Astrid mengambil minum untuk ibunya didapur. Ternyata ibunya yang berada dikamar batuk berdarah, Astrid tidak tahu, sewaktu Astrid kembali dari dapur, ibunya pun sudah tiada. Dan Astrid pun meneteskan air mata, dan gelas yang ada di tangannya pun jatuh pecah.
            Ternyata ibu yang selama ini telah dia sakiti hatinya, dan yang telah melimpahkan kasih sayang sepenuhnya pada dirinya, kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

            Astrid pun berkata dali lubuk hati yang paling dalam :
            Oh Tuhan mengapa engkau panggil orang yang paling aku sayang
            Maafkan aku ibu karena ku tak bisa membalas semua jasamu
            Maafkan bila masa kecilku selalu mengganggu lelap tidurmu
            Ya Tuhan tempatkan dia dalam surgamu dan disisi-Mu

            Kan ku kirim doa apa yang ku bisa agar dia terlelap dalam tidurnya.

Penulis : Nur Afriani Fatimah

Tidak ada komentar: