Di teriknya mentari hari Jum'at, 22 November 2013
sekitar pukul 15.00, kami masih di Madrasah Tsanawiyah Darul ‘Ulum Muhammadiyah
Galur. Begitu terasa menyengat panas teriknya matahari di kala itu. Meskipun
mentari hampir condong ke arah barat, tapi keteduhan mengiming-imingi kami
sehingga terhalau menuju ke sebuah peraduan. Tepat berada di pinggiran desa, yang
teriring permadani berwarna hijau.
Saat itu, aku dan kawan-kawan masih berada di sekolah
untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR. Namun, ekstra ini dilakukan
setelah Kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathon (HW) yang artinya Pecinta Tanah
Air, tapi kalau di Sekolah Negeri biasanya disebut Pramuka. Saat itu, aku hanya
bersama dengan Ani, Elsa, Nana, Anisa, Arvina, dan Erlin. Padahal anggota
resminya ada 19 orang. KIR merupakan Kegiatan ekstrakurikuler yang masih baru
dan dibimbing oleh Bu Sita.
Setelah berkali-kali melakukan pembimbingan di kelas,
akhirnya tibalah hari yang begitu spesial. Kali ini KIR dilakukan di luar
ruangan (outdoor), ya sebelumnya memang Bu Sita telah memberikan kode
bahwa beliau sedang bosan membimbing di dalam ruangan. Sehingga pada akhirnya,
kami dengan semangat menyerukan untuk belajar di luar. Setelah kegiatan ekstra
HW tersebut, selanjutnya kami berjalan menepi di sebuah desa Sorobayan. Satu-persatu
duduk dengan santai melanjutkan tugas membuat cerpen yang menjadi PR minggu
lalu. Sepuluh menit kemudian, ada sekitar 12 teman-temanku duduk melingkar
memenuhi jalan tak beraspal. Seorang teman bernama Hilmen, membacakan cerpennya
tentang IBU dan dilanjutkan oleh Arvina.

Karena waktu yang terus bergulir sesuai jalurnya, maka
satu persatu teman ku pulang dan tersisa hanya kami berenam bersama dengan Bu
Sita. Selanjutnya acara bebas yang diisi dengan melakukan pengamatan burung di
sekitar sekolah. Tepat di depan kami, hamparan sawah yang masih sangat luas
yang terisi dengan berbagai tumbuhan padi dan berhiaskan tumbuhan liar serta
hewan-hewan yang begitu menakjubkan.
Angin yang begitu sepoi-sepoi ditambah dengan cahaya
matahari yang menyinari suasana siang itu hingga cuaca itu menjadi panas.
Jadwal kegiatan KIR kali itu adalah pengamatan yang tak lain dan tak bukan
adalah pengamatan burung. Saat itu kami pun mencari tempat untuk pengamatan,
dan setelah berhasil mencari tempat kami pun mulai menjalankan tugas kami.

“Sama..??” kata
Bu Sita. Ya begitulah awalnya, ku pikir semua burung itu sama semua. Umm.. namun
tebakan ku itu salah, saat ku lihat memakai teropong “binokuler” ternyata jenis
burung itu berbeda-beda. Akhirnya aku pun memilih untuk mengamati seekor burung
yang bernama "CICI PADI".
Burung cici padi mempunyai nama latin yaitu "Cisticola
juncidis". Burung itu mempunyai sayap coklat, berukuran kecil, dengan
panjang tubuh dari ujung paruh sampai ekor adalah kira-kira 10 cm, sisi bawah
tubuh agak pucat, lebih putih daripada Cici merah. Tungging kuning tua
kemerahan dengan ujung ekor berwarna putih menyolok. Ekor kerap
digerak-gerakkan menutup dan membuka serupa kipas, Sisi atas tubuh kecoklatan
bergaris-garis/bercoret hitam. Suaranya “dik-dik..dik-dik” atau “zit-zit
..zit-zit” berulang-ulang. Alis putih, sisi leher dan tengkuk berwarna pucat.
Iris mata coklat, paruh coklat, kaki putih sampai kemerahan. Biasanya menghuni
padang rumput dan persawahan, terutama dekat air. Cici padi lebih banyak
menjelajah di sela-sela kerimbunan batang-batang rumput yang tinggi. Kawan,
rasanya sangat menarik sekali..!!!
Tak terasa, mentari semakin mendekati tempat
persembunyiannya. Begitu pula dengan kami yang juga harus kembali pulang. Dan
akhirnya, sampai jumpa lagi.... Mungkin secuil tulisan tentang perjalanan ku
mengenal burung cici padi dapat bermanfaat untuk teman-teman semua. Dannn.. pesen
ku : SOBAT, MARI KITA LEBIH PEDULI DENGAN ALAM SEKITAR... KALAU BUKAN KITA
SIAPA LAGI..!!
Penulis
: Haida Setyani Kelas VIII
2 komentar:
ada sebuah petuah yang mengatakan sepintar apapun seseorang, ada atau tidak adanya dirinya tidak akan memberikan efek jika dia tidak berkontribusi kepada lingkungannya. Menulis bisa jadi salah satu langkah kita untuk berkontribusi terhadap lingkungan, teruslah menulis karena tidak ada sejarah yang tidak tertulis :D
cerita yang menarik, terus menulis, jika ada lomba karya tulis perlu dicoba
buat bu sita : metode yang bagus mengenal burung alam
buat dek haida : sepertinya sudah punya ketertarikan pada dunia burung, perlu dishare ke temen2 nya, jangan lupa minta diajarin sama bu sita
Posting Komentar