Matahari kini sudah kembali ke Barat. Di
gendang telingaku kini sudah tak terdengar lagi hiruk pikuk suara keceriaan
temanku. Ya, yang ada sekarang hanyalah suara televisi yang menjadi temanku di
rumah. Hari ini memang sudah jatahku pulang untuk menyervis otakku ini, yang sudah berjuang selama 2 minggu ini. Saat ini juga adalah musim menanam padi, sehingga orang tuaku sedang sibuk menyingkirkan hama padi di sawah. Dan jadilah, hari ini di
rumah hanya berteman dengan televisi saja.
“Mbak Naaaa …?” huft ,suara lantang adikku mengagetkanku. Merengek-rengek ingin menyusul ibu. Yah mau bagaimana lagi, akhirnya ku turuti saja keinginannya. Kemudian kami berlari menerjang angin yang menghalang menuju sawah yang penuh dengan permadani hijau. Hingga akhirnya sampai garis finish yaitu "sawah". Lelah, begitu lelahnya aq berlari, tapi semuanya telah terbayar. Kebersamaanku dengan adik tercinta dan juga hijaunya hamparan sawah yang membentang memberikan pesona yang sangat luar biasa.
Sawah yang identik dengan tanaman padi (Oryza sativa) ternyata memiliki sebuah keunikan. Selain tanaman padi, ada makhluk hidup lainnya yang hidup disitu. Makhluk hidup yang kami maksud adalah keong sawah. Dan sepertinya kali ini, memang
sengaja aku dan Fafa adikku, mencari keong sawah yang mengganggu tumbuhan padi (hama). Tentunya selain mencari keong sawah kami juga bermaksud untuk bermain lumpur. Fafa dengan semangat ’45
langsung menceburkan kaki mungilnya itu ke lumpur mengikuti bapak dan ibu yang
memang sudah sedari tadi itu berjibaku dengan rumput-rumput liar.Tak mau kalah
,aku juga ikut turun ke lumpur.
Keong sawah (Pila ampullacea) yang berwarna hijau lumut dan termasuk filum Mollusca itu kami bawa dengan kantong kresek, yang ternyata kantong kresek itu juga sudah menjadi limbah di sekitar sawah. Sungguh kenyataan yang pahit. Hmm, membayangkan jika ada sekitar 1 kantong kresek keong yang kami dapatkan bisa jadi ada sekitar 100 lebih keong sawah yang berhasil kami kumpulkan.
Dalam hati aku tertawa riang “mungkin sebelum ini kalian bisa mengganggu padi-padi ku, tp nanti kalian akan menjadi santapan yang lezat”. Memang di samping ulah keong sawah itu mengganggu tanaman padi, keong sawah ternyata bisa menjadi santapan yang tidak kalah sedap. Entah itu santapan bagi bebek-bebek yang sudah menunggu kelaparan ataupun santapan untukku. Berbicara soal santapan hewan bercangkang ini paling nikmat jika di sate, tapi paling mudah cara mendapatkannya adalah dengan ‘membelinya’. Memang sudah banyak yang menjual makanan dari hewan yang telah dipercaya dapat mengobati penyakit liver ini. Pergi ke angkringan adalah cara untuk mendapatkannya. Hmm memang tak salah aku tadi menuruti keinginan adikku. Dan dengan itu aku nanti bisa menyantap keong-keong sawah ini .
Keong sawah (Pila ampullacea) yang berwarna hijau lumut dan termasuk filum Mollusca itu kami bawa dengan kantong kresek, yang ternyata kantong kresek itu juga sudah menjadi limbah di sekitar sawah. Sungguh kenyataan yang pahit. Hmm, membayangkan jika ada sekitar 1 kantong kresek keong yang kami dapatkan bisa jadi ada sekitar 100 lebih keong sawah yang berhasil kami kumpulkan.
Dalam hati aku tertawa riang “mungkin sebelum ini kalian bisa mengganggu padi-padi ku, tp nanti kalian akan menjadi santapan yang lezat”. Memang di samping ulah keong sawah itu mengganggu tanaman padi, keong sawah ternyata bisa menjadi santapan yang tidak kalah sedap. Entah itu santapan bagi bebek-bebek yang sudah menunggu kelaparan ataupun santapan untukku. Berbicara soal santapan hewan bercangkang ini paling nikmat jika di sate, tapi paling mudah cara mendapatkannya adalah dengan ‘membelinya’. Memang sudah banyak yang menjual makanan dari hewan yang telah dipercaya dapat mengobati penyakit liver ini. Pergi ke angkringan adalah cara untuk mendapatkannya. Hmm memang tak salah aku tadi menuruti keinginan adikku. Dan dengan itu aku nanti bisa menyantap keong-keong sawah ini .
Meskipun terlalu asik dengan keong sawah, namun karena cuaca sudah mulai menurunkan rintik-rintik air
hujan. Maka kami pun segera Kabuuuuur meninggalkan sawah. Dan itu artinya kini saatnya
pulang dan menyantap keong-keong nakal ini (Fathiyah Hasna/VIII).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar